Sabtu, 16 Maret 2013

Makalah Sufiks Serapan


BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
          Sudah diketahui bahwa dalam bahasa Indonesia terdapat kata dasar dan kata bentukan. Kata dasar disusun menjadi kata bentukan melalui tiga macam proses pembentukan, yaitu: afiksasi (pengimbuhan),  reduplikasi (pengulangan), dan komposisi (pemajemukan). Dalam proses pembentukan afiksasi telah dikenal adanya imbuhan atau afiks yang meliputi prefiks (awalan), sufiks (akhiran), dan infiks (sisipan).
          Untuk memperkaya bentuk gramatikalnya, bahasa Indonesia menyerap sejumlah imbuhan dari bahasa asing. Bahasa Indonesia merupakan bahasa asing yang dinamis, yang selalu berkembang dari waktu ke waktu sesuai dengan tuntutan kebutuhan masyarakat pemakai dan penuturnya. Salah satu akibat dari sifat dinamis tersebut adalah masuknya berbagai unsur kebahasaan dari bahasa asing, baik yang berupa afiks (imbuhan, awalan, akhiran) maupun berupa kata. Inilah yang kemudian dikenal dengan unsur serapan.
          Makalah ini hanya membahas sufiks serapan dari bahasa asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia. Kata serapan masuk ke dalam bahasa Indonesia melalui bidang pendidikan, ilmu dan teknologi, agama, dan perdagangan. Sufiks serapan berasal dari bahasa Arab, Sansekerta, Belanda, dan Inggris. Sejalan dengan perkembangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat Indonesia dari waktu ke waktu, perkembangan imbuhan serapan masuk ke dalam bahasa Indonesia. Seperti sufiks -isme dalam bahasa Indonesia tidak hanya dilekatkan dengan bahasa asing, kata-kata asli Indonesia pun ada yang telah diberi sufiks asing. Setiap unsur serapan pasti memilik problematik, Baik yang berhubungan dengan bunyi, bentukan kata, penulisan, maupun pemakaian kalimat. Seperti pada penulisan kata gerejani dan gerejawi, manakah yang paling dianggap benar secara morfologis. 

BAB II
PEMBAHASAN
A.  Pengertian Sufiks
1.    Menurut Abdul Chaer
          Sufiks adalah afiks yang dibubuhkan di kanan bentuk dasar, yaitu sufiks -kan, -i, -an, dan -nya.

2.    Menurut Harimurti Kridalaksana
          Sufiks (suffix) adalah afiks yang ditambahkan pada bagian belakang pangkal; misalnya: -an pada ajaran;               akhiran.

3.    Menurut Keraf
          Sufiks adalah morfem nondasar yang secara struktural dilekatkan pada akhir sebuah kata dasar.

4.    Menurut James R. Hurford
          A suffix is an affix attached after the stem of a word. A word may contain several suffixes, in which case they follow each other at the end of the word.
-ed (Past Tense)             : talked, hummed, shouted
-s (Plural)                       : cats, dogs, horses
-er (Comparative)          : happier, stiffer, softer
-al (Noun-Forming)       : dismissal, arrival, recital
-al (Adjective-Forming): practical, feudal, musical
-ing                                : coming, going
-ness                               : happiness, fruitfulness
-less                                : careless, harmless
-ize                                 : organize, sodomize, propagandize

          Jadi, pengertian sufiks adalah afiks yang dibubuhkan diakhir bentuk dasar, atau yang sering disebut dengan akhiran. Serapan, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia merupakan hasil menyerap atau yang diserap. Jadi, dapat disimpulkan bahwa sufiks serapan ialah akhiran dari bahasa asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia.

B.  Jenis atau Variasi Bentuk
          Untuk memperkaya bentuk gramatikalnya, bahasa Indonesia menyerap sejumlah imbuhan asing dari bahasa Arab, Sansekerta, dan bahasa Barat (Belanda dan Inggris). Imbuhan tersebut antara lain sebagai berikut:

1.    Dari bahasa Arab
          Sufiks dari bahasa Arab terdiri dari -i, -iah, dan -wi, yaitu sebagai pembentuk atau penanda kata sifat, dengan makna ʻberhubungan dengan, mengenai, bersifatʼ. Contoh: alami, badani, rohaniah, manusiawi. Sufiks -wi merupakan afiks yang telah usang, yang distribusinya terbatas pada beberapa kata dan memungkinkan tidak lagi membentuk kata-kata baru (improduktif).

2.    Dari bahasa Sansekerta
          Sufiks dari bahasa Sansekerta terdiri dari -man, -wan, dan -wati, yaitu sebagai pembentuk atau penanda kata benda. Afiks -wan merupakan afiks yang produktif. Di samping kata-kata lama seperti bangsawan, hartawan, jutawan, timbullah kata-kata baru, misalnya sejarawan, negarawan, bahasawan, tatabahasawan. Afiks -man merupakan afiks yang improduktif, yang sudah usang dan distribusinya terbatas pada beberapa kata yang memungkinkan tidak lagi membentuk kata-kata baru. Seperti budiman dan seniman.

3.    Dari bahasa Barat
          Sufiks dari bahasa barat terdiri dari bahasa Belanda dan Inggris. Karena masuknya kata serapan dari bahasa Belanda jauh mendahului bahasa Inggris, maka sufiks serapan dari bahasa Belanda lebih banyak dibandingkan dengan yang bahasa Inggris. Tetapi bahasa Inggris lebih dikenal oleh penutur bahasa Indonesia, sedangkan bahasa Belanda semakin tidak dikenal, atau pengaruhnya semakin menyusut. Sufiks dari bahasa barat meliputi:
a.    Sufiks -ur dalam direktur, inspektur, redaktur, kondektur.
b.    Sufiks -is dalam egois, sosialis, kapitalis, nasionalis.
c.    Sufiks -isme dalam humanisme, feodalisme, kapitalisme, sukuisme.
d.   Sufiks -isasi dalam organisasi, spesialisasi, globalisasi, inventarisasi, aktualisasi, legalisasi, lokalisasi.
e.    Sufiks -us dalam kritikus, musikus, politikus, komikus.

C.  Pembentukan Kata
1.    Dari Bahasa Arab
          Adjektiva yang bersufiks -i, -iah dan -wi memiliki dasar nomina yang berasal dari bahasa Arab. Contoh :
Nomina                         Adjektiva                               Adjektiva
Alam                              alami                                        alamiah
Abad                              abadi
Insan                              insani              
Hewan                           hewani
Amal                                                                              amaliah
Dunia                             duniawi
Manusia                         manusiawi
Gereja                            gerejawi
Raga                              ragawi

2.    Dari Bahasa Sansekerta
          Sufiks –man, -wan, dan –wati merupakan sufiks dari bahasa Sansekerta yang membentuk kata benda baik dari bentuk dasar kata benda atau kata sifat. Sufiks -man membentuk kata nomina, misalnya:
          Seniman                           seni
          Budiman                          budi
         
          Sufiks -wan ada yang melekat pada bentuk dasar golongan kata sifat dan membentuk kata nomina, misalnya:
Sukarelawan                     sukarela
Cendekiawan                   cendekia

          Tetapi sebagian besar melekat pada bentuk dasar yang termasuk golongan kata nomina, misalnya:
Negarawan                       negara
Sejarawan                         sejarah
Gerilyawan                       gerilya
Usahawan                                    usaha
Rohaniwan                       rokhani
          Sufiks ­-wati melekat pada bentuk dasar yang termasuk golongan kata nomina, seperti:           
              Wartawati                                    warta
              Karyawati                                    karya
  
3.    Dari Bahasa Barat
          Sufiks -ur, -is, -isme, -isasi, dan -us ini diserap dari bahasa Belanda dan Inggris.
a.    Sufiks -ur termasuk golongan kata nomina, contoh:
     -eur (Belanda)                 -or (Inggris)                            menjadi -ur
     directeur                           director                                    direktur
     inspecteur                         inspector                                  inspektur
     conducteur                       conductor                                kondektur

b.   Sufiks -is membentuk kata adjektiva, contohnya:
     -isch (Belanda)                -ic, -ical (Inggris)                    menjadi -is
     technisch                          technical                                  teknis
     practisch                           practical                                   praktis
     chronologisch                   chronological                           kronologis
     optimistisch                      optimistic                                optimistis
         
c.    Sufiks -isme membentuk kata nomina, contoh:
     -isme (Belanda)               -ism (Inggris)                          menjadi -isme
          humanisme                       humanism                                humanisme
          capitalisme                       capitalism                                kapitalisme
          feudalisme                        feudalism                                feodalisme
          modernisme                      modernism                              modernisme

d.   Sufiks -isasi membentuk kata nomina dari bentuk dasar kata benda dan kata sifat.
     -isatie (Belanda)              -ization (Inggris)                     menjadi -isasi            
          Specialisatie                     specialization                           spesialisasi                  
          globalisatie                       globalization                            globalisasi
          naturalisatie                      naturalization                          naturalisasi
          socialisatie                        socialization                            sosialisasi
          organisatie                        organization                            organisasi
          Akhiran -isme dan -isasi merupakan jenis imbuhan serapan. Mulanya pemakaian kedua imbuhan ini sangat terbatas pada kata-kata tertentu, seperti liberalisme dan westernisasi. Pemakaiannya tidak hanya pada kata dasar dari bahasa Inggris atau Belanda. Sufiks asing tidak produktif lagi dalam pembentukan nomina bahasa Indonesia. Dalam perkembangannya, sufiks -isme dan -isasi dalam bahasa Indonesia tidak hanya dilekatkan dengan bahasa asing. Kata-kata Indonesia asli pun banyak yang menggunakan imbuhan tersebut, seperti sukuisme, daerahisme, bapakisme, provinsialisme, Indonesisasi, tendanisasi, neonisasi, dan lelenisasi.

e.    Sufiks -us membentuk kata nomina, contoh:
          Politikus                           politik             
          Kritikus                            kritik
          Musikus                            musik

D.  Fungsi Pembentukan
1.    Dari Bahasa Arab
          Apabila diperhatikan afiks-afiks bahasa Arab yang produktif, maka dapat diketahui bahwa afiks-afiks itu berfungsi menjadi kata sifat.
Sufiks -i
-i                        N         A         ʻbersangkutan denganʼ
       Contoh:
a)   Bakat yang dimiliki olehnya adalah bakat alami.
b)   Di dunia ini tidak ada yang abadi.
c)   Dengan olahraga kesehatan badani kita akan terjaga.
Catatan:
Sufiks ini mempunyai alomorf -i, -wi, dan -ni.

Sufiks -iah
-iah        N         A         ʻbersangkutan denganʼ
       Contoh:
a)   Kecantikan alamiah dimiliki oleh gadis-gadis desa.
b)   Kebutuhan manusia terdiri dari kebutuhan jasmaniah dan rohaniah.
c)   Banyak kata dalam bahasa Inggris yang tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia secara harafiah.
Sufiks -wi
-wi          N         A         'bersangkutan dengan'
       Contoh:
a)   Perlakukanlah para tenaga kerja secara manusiawi.
b)   Setiap manusia harus mempertimbangkan hal-hal surgawi.
c)   Ia menyanyikan lagu-lagu gerejawi.

          Aturan pemakaian sufiks -i, -iah atau -wi dalam banyak hal ditentukan oleh aturan fonologi dan tata bahasa Arab. Secara umum, sufiks -i dan -iah muncul di belakang kata yang berakhiran dengan vokal. Ada pula bentuk turunan yang diserap secara utuh menurut aturan bahasa Arab, seperti hakiki, rohani, ilmiah, dan harfiah. Sufiks -i dan -wi dalam bahasa Arab ditambahkan pada nomina jenis maskulin, sedangkan -iah pada nomina jenis feminin.

2.    Dari Bahasa Sansekerta
          Akhiran -man, -wan, dan -wati merupakan contoh imbuhan serapan dari bahasa Sansekerta yang berfungsi membentuk nomina.  Sufiks –man sudah tidak produktif lagi (improduktif), karena sudah usang dan distribusinya terbatas pada beberapa kata. Sufiks -man hanya terdapat pada kata budiman dan seniman.     Dalam bahasa Sansekerta, sufiks –man dan –wan dipakai untuk menunjukkan jenis kelamin laki-laki, sedangkan bentuk wanita ditunjukkan dengan bentuk –mati dan –wati. Akan tetapi, dalam bahasa Indonesia, sufiks –mati menimbulkan nilai rasa yang berbeda, yaitu diasosiasikan dengan kata mati sebagai lawan dari hidup. Oleh karena itu, sufiks –mati tidak dipakai lagi dalam bahasa Indonesia.
          Sufiks -wan merupakan afiks produktif yang memiliki kesanggupan yang besar untuk melekat pada kata-kata yang dapat membentuk kata-kata baru. Afiks -wan berfungsi membentuk kata nomina, misalnya cendekiawan, negarawan, sejarawan, gerilyawan, usahawan, rohaniwan, dan sebagainya. Sufiks -wan hanya dapat mengikuti huruf hidup. Sufiks -wan dapat bergender netral atau laki-laki, namun untuk wanita menggunakan -wati.
          Sufiks ­-wati­ dipakai untuk mengacu pada wanita. Seorang pekerja wanita, misalnya dinamakan karyawati, sedangkan rekan prianya dinamakan karyawan. Dalam perkembangan bahasa Indonesia, orang mulai memakai bentuk  -wan untuk merujuk baik pria maupun wanita. Bila ingin secara khusus merujuk pada kewanitaannya, baru digunakan sufiks -wati. Dengan kata lain, wartawati adalah seorang jurnalis wanita, akan tetapi wartawan bisa mengacu pada yang pria ataupun wanita.

Sufiks -man, -wan, dan -wati
-man      N         N         ʻorang yang memiliki sifatʼ
          Contoh:
·      Dani merupakan sosok seorang pria yang tampan dan budiman.
·      Basuki adalah seorang seniman yang terkenal.

-wan      N         N         ʻorang yang berprofesi dalam bidang tertentuʼ
          Contoh:
·      Arif adalah usahawan muda yang terbilang sukses.
·      Beliau merupakan pahlawan besar dan negarawan agung.

-wati       N         N         ʻorang yang berprofesiʼ
          Contoh:
·      Dia adalah karyawati di sebuah perusahaan swasta.
·      Sebelum menikah ibuku bekerja sebagai wartawati di sebuah stasiun televisi swasta.

3.    Dari Bahasa Barat
a.    Sufiks -ur berfungsi membentuk kata nomina. Dalam serapan asing, sufiks -ur tidak produktif lagi. Sufiks -ur menggunakan pelaku maskulin (laki-laki).
-ur              V                        N         ʻpelaku maskulinʼ
          Contoh:
a)    Direktur PT Abadi Jaya tidak hadir dalam rapat.
b)   Yang bertugas sebagai inspektur upacara pada tanggal 17 Agustus adalah Presiden Soeharto.
c)    Redaktur majalah Sarinah menerima banyak surat.

b.   Sufiks -is dapat berfungsi membentuk kata adjektiva. Sufiks -is pembentuk kata nomina berhubungan dengan sufiks -isme.

-is               N                        A         ʻbersangkutan denganʼ
          Contoh:
a)    Tamatan sekolah teknik ini mempunyai pengetahuan teknis dan praktis tentang permesinan.
b)   Peristiwa itu dibeberkan secara kronologis oleh komandannya.

c.    Sufiks -isme berfungsi untuk membentuk kata nomina.
-isme             - ʻpaham atau aliranʼ
          Contoh:
a)   Aliran humanisme mengutamakan unsur kemanusiaan.
b)   Kapitalisme ditolak di negara komunis.
c)   Feodalisme sudah tidak sesuai lagi untuk zaman sekarang.

d.   Sufiks –isasi yang diserap dari bahasa Inggris ini sangat produktif dan berfungsi membentuk kata nomina.
-isasi              - ʻprosesʼ
          Contoh:
a)   Riri aktif dalam pelbagai organisasi di kampusnya.
b)   Ia mengambil spesialisasi bidang kedokteran anak.
c)   Tradisi tidak memperlancar proses sosialisasi perusahaan milik keluarga.

e.    Sufiks -us berfungsi membentuk kata nomina.
-us     - ʻpelaku tunggal, orang yang bergerak dalam bidangʼ
                   Contoh:
a)   H. B. Jassin adalah kritikus sastra yang terkenal.
b)   Putra ingin menjadi seorang politikus ulung.
c)   Musikus itu sedang memusikalisasi puisi karya Chairil Anwar.

E.  Makna
1.    Dari Bahasa Arab
          Akhiran -i, -iah, dan -wi berfungsi membentuk kata sifat. Makna yang dikandungnya pun menyatakan ʻmemiliki sifat ~ʼ seperti: jasmaniah, ilmiah, harfiah, rohaniah, dan ʻbersifat ~ʼ seperti: alami, badani, insani, duniawi, manusiawi, surgawi.
Makna leksikal dari sufiks bahasa Arab adalah:
§  Insan           : manusia.
§  Insani          : bersifat atau menyangkut manusia; kemanusiaan; manusiawi.
§  Alam           : segala yang ada di langit dan di bumi (bumi, bintang, kekuatan);                                         lingkungan kehidupan.
§  Alami          : bersangkutan dengan alam; bersifat alam; wajar.
§  Alamiah      : alami: tanpa dipacu.
§  Jasmani       : tubuh; badan; benda sebagai lawan dari rohani.
§  Jasmaniah   : berhubungan dengan jasmani; mengenai tubuh atau badan.
§  Rohani        : roh; berkaitan dengan roh.
§  Rohaniah    : berkenaan dengan rohani; kerohanian.
§  Badani        : berhubungan dengan badan; mengenai badan: kesehatan dan rohani.
§  Harafiah      : (terjemahan atau arti) menurut huruf, kata demi kata; berdasarkan arti                                 leksikal.
§  Manusiawi  : bersifat manusia (kemanusiaan).
§  Surgawi      : mengenai surga; bersifat surga (kekal, langgeng).
§  Gerejawi     : berkenaan dengan gereja.
§  Ragawi       : sifat keragaan.

2.    Dari Bahasa Sansekerta
          Sufiks -man, -wan, dan -wati merupakan sufiks serapan yang berasal dari bahasa Sansekerta dan berfungsi membentuk nomina. Pada masa lampau sufiks -man diletakkan pada bentuk dasar yang berakhir dengan fonem /i/ seperti terdapat pada kata budiman yang bermakna orang yang berbudi, dan seniman yang bermakna orang yang memiliki jiwa seni. Berdasarkan makna leksikal:
          Budiman              : orang yang berbudi, pintar dan bijaksana.
          Seniman               : orang yang mempunyai bakat seni dan berhasil menciptakan                                              dan menggelarkan karya seni (pelukis, penyair, penyanyi).

Nomina dengan afiks -wan dan -wati mengacu pada:
a.    Orang yang ahli dalam bidang tertentu.
b.    Orang yang mata pencarian atau pekerjaannya dalam bidang tertentu.
c.    Orang yang memiliki barang atau sifat khusus.

Pada mulanya arti akhiran -wan hanya sebatas ʻorang yang memiliki ~ʼ.

Seperti:                                   
          Bangsawan           : ʻorang yang memiliki 
          Hartawan             : ʻorang yang memiliki 
          Rupawan              : ʻorang yang memiliki ~ yang elokʼ
         
          Dalam perkembangan bahasa Indonesia, akhiran -wan mengalami perluasan makna, sehingga dapat bermakna ʻorang yang ahli dalam bidang ~ʼ.
Seperti:
          Ilmuwan               : ʻorang yang ahli dalam bidang ~ tertentuʼ
          Negarawan           : ʻorang yang ahli dalam bidang ilmu ~ʼ
          Fisikawan             : ʻorang yang ahli dalam bidang
          Sastrawan, bahasawan, sejarawan, budayawan, rokhaniwan, dan lain sebagainya.

          Jenis perluasan yang kedua adalah yang bermakna ʻorang yang berprofesi dalam bidang ~ʼ.
Seperti:
          Usahawan                        : ʻorang yang berprofesi dalam bidang ~ tertentuʼ
          Olahragawan        : ʻorang yang berprofesi dalam bidang
          Peragawan            : ʻorang yang berprofesi dalam bidang
          Karyawati                        : ʻorang (perempuan) yang berprofesi dalam menghasilkan ~ʼ
          Seniwati               : ʻorang yang berprofesi dalam menghasilkan karya ~ʼ
          Pustakawan, wartawan, karyawan, dan lain sebagainya.

          Pada kata-kata sukarela afiks ­-wan menyatakan makna ʻorang yang bekerja dengan sukarelaʼ.
Seperti:
          Relawan   : ʻorang yang ~ʼ
          Sosiawan  : ʻorang yang mempunyai sifat ~ʼ

3.    Dari Bahasa Barat
a.    Sufiks -ur bermakna gramatikal ʻlaki-laki yang menjadiʼ.
 Seperti:
          Direkur            : (1) pemimpin tertinggi dalam suatu perusahaan; (2) kepala                             sekolah menengah; (3) kepala direktorat (dalam departemen).
                   Inspektur         : (1) pejabat pemerintah yang bertugas melakukan                                                               pemeriksaan; pemeriksa; penilik; pengawas; (2) nama                                                            pangkat dalam kepolisian.
                   Redaktur         : (1) orang yang menangani bidang redaksi; (2) pemimpin                                                  (kepala atau penerbit) surat kabar.
                  
b.   Sufiks –is memiliki makna  ʻbersangkutan denganʼ. Seperti:
          Teknis              : bersifat atau mengenai (menurut) teknik.
          Praktis             : berdasarkan praktik; mudah dan senang memakainya.
          Kronologis      : berkenaan dengan kronologi; menurut urutan waktu.

c.    Sufiks –isme. Menurut Harimurti Kridalaksana makna akhiran –isme yang ada dalam bahasa Indonesia ada enam, yaitu:
1)   Praktik-praktik tak terpuji, misal: terorisme, premanisme, kronisme, egoisme.
2)   Sifat-sifat mental yang baik, misal: patriotisme, heroisme.
3)   Keadaan berlebihan, misal: alkoholisme, gigantisme.
4)   Unsur khas dalam bahasa, misal: Latinisme, Arabisme, Holandisme.
5)   Paham atau ajaran: humanisme, kapitalisme, feodalisme.
6)   Sikap benci pada kelompok lain: chauvinisme, provinsialisme

-isme             ʻpaham atau ajaran mengenai ~ʼ
               Humanisme     : aliran yang bertujuan menghidupkan rasa perikemanusiaan;                                      paham yang menganggap manusia sebagai objek terpenting.
               Kapitalisme     : sistem dan paham ekonomi yang modalnya bersumber pada                                     modal pribadi atau modal perusahaan swasta dengan cirri                                        persaingan dalam pasar bebas.
               Feodalisme      : sistem sosial atau politik yang memberikan kekuasaan yang                                      besar kepada golongan bangsawan.
    
d.   Sufiks -isasi menyatakan ʻproses atau menjadikan sesuatuʼ. Seperti:
          Organisasi       : kesatuan yang terdiri atas bagian-bagian dalam perkumpulan                                    untuk tujuan tertentu.
          Spesialisasi      : pengahlian dalam suatu cabang ilmu, pekerjaan, kesenian, dan                                 sebagainya.
          Sosialisasi        : usaha untuk mengubah milik perseorangan menjadi milik                                          umum (milik negara).

e.    Sufiks -us memiliki makna ʻorang yang bergerak dalam bidang ~ʼ. Seperti:
          Kritikus           : orang yang ahli dalam memberikan pertimbangan                                                                  (pembahasan) tentang baik buruknya sesuatu.
          Politikus          : (1) ahli politik; ahli kenegaraan; (2) orang yang                                                          berkecimpungan dalam bidang politik.
            Musikus                       : orang yang mencipta, memimpin, atau menampilkan musik;                                       pencipta atau pemain musik.


BAB III
PENUTUP
A.  Simpulan
·      Sufiks dalam bahasa asing terbagi ke dalam bahasa Arab, Sansekerta, dan bahasa Barat yang terdiri dari bahasa Belanda dan Inggris. Sufiks dalam bahasa Arab terdiri dari sufiks -i, -iah, dan -wi yang berfungsi membentuk kata sifat, seperti alami, badani, harafiah, rohaniah, manusiawi, gerejawi.
·      Sufiks dalam bahasa Sansekerta terdiri dari -man, -wan dan -wati yang berfungsi membentuk nomina, seperti budiman, seniman, usahawan, relawan, karyawan dan karyawati. Dalam pembentukannya, sufiks ­-wan merupakan sufiks yang paling produktif. Pada mulanya arti akhiran ini hanya sebatas ʻorang yang memiliki ~ʼ. Akan tetapi, dalam perkembangan bahasa Indonesia, akhiran -wan mengalami perluasan makna, sehingga dapat bermakna ʻorang yang ahli dalam bidang ~ʼ.
·      Sufiks dalam bahasa Barat terdiri dari -ur, -is, -isme, -isasi, -us yang berfungsi membentuk kata nomina dan adjektiva, seperti direktur, teknis, humanisme, organisasi, spesialisasi, dan kritikus. Sufiks asing tidak produktif lagi dalam pembentukan nomina bahasa Indonesia. Dalam perkembangannya, sufiks -isme dan -isasi dalam bahasa Indonesia tidak hanya dilekatkan dengan bahasa asing. Kata-kata Indonesia asli pun banyak yang menggunakan imbuhan tersebut, seperti sukuisme, provinsialisme, Indonesisasi, tendanisasi, dan lelenisasi.
·      Setiap bahasa, termasuk bahasa Indonesia, dalam pemakaiannya selalu timbul masalah-masalah. Seperti pada pembentukan kata gerejani dan gerejawi. Pembentukan kata yang benar yaitu gerejawi, karena sufiks -i hanya dapat dilekatkan pada bentuk dasar yang berakhir dengan konsonan. Sedangkan sufiks ­-ni tidak terdapat dalam bahasa Arab.


DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan. dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Chaer Abdul. 2008. Morfologi Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: Rineka Cipta.
Hurford, James R. 1994. Grammar: A Student's Guide. Australia: Cambridge University   Press.
Kridalaksana, Harimurti. 2009. Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta:        Gramedia Pustaka Utama.
Putrayasa, Ida Bagus. 2008. Kajian Morfologi (Bentuk Derivasional dan Infleksional).       Bandung: PT Refika Aditama.
Ramlan, M. 2009. Morfologi Suatu Tinjauan Deskriptif. Yogyakarta: CV Karyono.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar